Laporan Pengamatan Arsitektur Hijau, Transpostoasi Hijau dan Pengolahan Limbah
LAPORAN
PENGAMATAN ARSITEKTUR HIJAU,
TRANSPORTASI HIJAU DAN PENGOLAHAN LIMBAH
Disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Pendidikan Konservasi
Dosen Pengampu : Dr. Sri Silistyorini, M.Pd
Oleh :
Muhamad Misbachul Munir
(1401418184)
Rombel D
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah , segala puji bagi Allah SWT atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya yang selalu kita rasakan sampai saat ini. Sholawat dan salam tak lupa selalu kita haturkan ke haribaan nabi agung Muhammad SAW.
Akhirnya penulisan laporan hasil pengamatan arsitektur dan transportasi hijau ini telah selesai. Kami sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan laporan ini. Untuk itu penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun guna keberhasilan penulisan yang akan datang.
Semarang, 18 Juli 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….I
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………………………1
B. Batasan Masalah…………………………………………………………………..1
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………….1
BAB II
PEMBAHASAN
1. Arsitektur Hijau………………………………………………………………………2
1.1. Pengertian Arsitektur Hijau……………………………………………………..2
1.2. Prinsip-Prinsip Arsitektur Hijau…………………………………………………2
2. Transportasi Hijau……………………………………………………………………3
2.1. Pengertian Transportasi Hijau…………………………………………………3
3. Hasil Pengamatan…………………………………………………………………….3
3.1. Rumah Tradisional…………………………………………………………….3
3.2. Bus Berbahan Bakar Gas………………………………………………………4
4. Tiga Pilar Konservasi………………………………………………………………..4
5. Tata Kelola Limbah di UNNES……………………………………………………...4
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………….6
B. Saran dan Kritik…………………………………………………………………..6
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………..7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman modern seperti sekarang ini, pembangunan di indonesia dilakukan besar-besaran. Guna mengejar ketertinggalan indonesia dari negara lain yang telah labih dulu berkembang dan maju. Beragam bangunan didirikan di atas ribuan hektat tanah. Mulaidari toko-toko, mall, rumah susun, gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, kendaraan bermotorpun semakin banyak jumlahnya. Selain menimbulkan polusi, kendaraan bermotor juga menghabiskan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui, yaitu minyak bumi.
Masalahpun mulai bermunculan, terutama di daerah perkotaan padat penduduk, salah satunya adalah masalah lingkungan yang rusak dan tercemar. Dengan dibangunnya banyak bangunan-bangunan yang tidak memperhatika lingkungan sekitarnya, membuat tanah resapan menjadi sempit. Lingkunagn hijau menjadi amat sulit sulit di jumpai. Yang terlihat hanya gedung-gedung perkantoran dan bangunan-bangunan tembok. Udara semakin tercemar, dan suhu pun semakin panas/.
Bukan hanya di kota, bahkan di desa pun pembangunan sudah mulai meraja lela. Pertumbuhan penduduk yang tinggi , membuat masyarakat di desa memanfaatkan tanah kebunnya untuk di bangun rumah. Sehingga mengakibatkan luas daerah resapan air dan daerah hijau semakin sempit.
Karena itu, seharusnya pembangunan mulai sekarang harus memperhatikan kelestarian ekosistem disekitarnya. Agar kelestarian tetap tejaga, sehingga tidak menimbulkan masalah. Salah satu solusi agar pembangunan tetap berjalan namun lingkungan tetap terjaga adalah dengan pembangunan yang menggunakan pendekatan perencanaan penbangunan yang ramah lingkungan atau istilah kerennya Green archithecture. Dalam laporan ini, penulis memaparkan salah satu contoh arsitektur hijau dan transportasi hijau.
B. Batasan Masalah
Dalam laporan ini akan di bahas tentang pengertian dari arsitektur hijau dan transportasi hijau, apa saja prinsipnya, serta contoh bangunan arsitektur hijau dan transportasi hijau.
C. Tujuan
Dengan membaca hasil laporan ini, diharapkan pembaca memahami apa itu arsitektur hijau dan transportasi hijau, mengetahui contoh-contohnya serta memiliki keinginan untuk menerapkan nya dimasyarakatnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Arsitektur Hijau
1.1. Pengertian Arsitektur Hijau
Arsitektur hijau disebut juga arsitektur ekologis atau arsitektur ramah lingkungan, adalah satu pendekatan desain dan pembangunan yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis dan konservasi lingkungan, yang akan menghasilkan satu karya bangunan yang mempunyai kualitas lingkungan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Arsitektur hijau diperlukan untuk menjawab tantangan persoalan lingkungan yang semakin memburuk dan hal ini disebabkan karena pendekatan pembangunan yang terlalu berorientasi pada aspek ekonomi jangka pendek semata.
1.2. Prinsip-Prinsip Arsitektur Hijau.
Ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi oleh sebuah bangunan agar dapat disebut sebagai arsitektur hijau, yaitu:
a. Konservasi energi
Bangunan harus dibangun dengan tujuan meminimalkan kebutuhan bahan bakar untuk pengoperasian bangunan tersebut. Efisiensi energi dapat dilakukan mulai saat pembangunan/konstruksi bangunan, pemakaian atau pengoperasian bangunan, dan saat bangunan dirobohkan.
b. Penyesuaian dengan iklim
Bangunan harus dirancang sesuai dengan iklim dan sumber energi alam yang ada. Ikilim diIndonesia adalah panas lembab, sehingga bangunan harus dirancang untuk mengatasi udara panas, kelembaban dan curah hujan tinggi.
c. Meminimalkan pemakaian sumberdaya
Bangunan harus dirancang untuk mengurangi pemakaian sumberdaya, terutama yang tidak dapat diperbarui dan diakhir pemakaian bangunan dapat membentuk sumberdaya baru untuk arsitektur bangunan lain.
d. Memperhatikan pemakai
Bangunan hijau harus memberi perhatian pada keterlibatan manusia dalam pembangunan dan pemakaian bangunan. Bangunan harus memberi kenyamanan, keamanan dan kesehatan bagi penghuninya. Rancangan bangunan juga harus memperhatikan budaya dimana bangunan didirikan, dan perilaku pemakainya.
e. Memperhatikan lahan (site)
Bangunan harus “membumi”. Ada interaksi antara bangunan dan lahan. Bangunan harus dirancang dan dibangun sesuai dengan potensi lahan tempat bangunan akan didirikan.
Holistik
f. Daur hidup bangunan
Dalam merancang bangunan hijau, arsitek atau perencana bangunan harus memperhatikan daur hidup (lifecycle) yang dimiliki oleh bangunan. Daur hidup bangunan berkaitan dengan efisiensi pemakaian sumberdaya dan energi, limbah dan polusi yang dihasilkan di setiap tahapnya, dan kenyamanan penghuninya. Daur hidup bangunan hijau yang perlu diperhatikan yaitu:
2. Transportasi Hijau.
2.1. Pengerian Transportasi Hijau
Transportasi hijau atau bisa juga disebut dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai Green Transport merupakan perangkat transportasi yang berwawasan lingkungan. Merupakan pendekatan yang digunakan untuk menciptakan transportasi yang sedikit atau tidak menghasilkan gas rumah kaca. Gas rumah kaca di tengarai sebagai pemicu terjadi pemanasan suhu dunia (Global Warming). Sedangkan pangsa gas rumah kaca yang diakibatkan Transportasi[1] berada pada kisaran 15 sampai 20 persen, sehingga cukup nyata langkah yang bisa dilakukan dalam sistem transport untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tersebut. Pendekatan yang paling mudah dalam menciptakan transportasi hijau[2] adalah dengan menggunakan angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi, walaupun tidak senyaman menggunakan kendaraan pribadi.
3. Hasil Pengamatan
3.1. Rumah Tradisonal.
Rumah tradisional merupakan rumah yang masih menggunakan kayu sebagai bahan utama dalam membangunnya. Pembangunnanya tidak terlalu banyak menghabiskan material dan sumber daya. Limbah sisa pembangunannyapun tidak membahayakan bagi kelestarian lingkungan, karena mudah terurai oleh tanah, seperti kayu dan bambu. Meski bahan bangunannya di ambil dari alam yaitu menebang pepohonan , akan tetapi lingkungan masih bisa tetap terjaga dengan cara tebang pilih, serta diperbarui dengan cara menanam kembali.
Berbeda dengan rumah model sekarang yang bahan bangunannya dari batu bata, pasir dan semen. Semua bahannya di ambil dari daerah yang jauh, seperti gunung dan pantai. Bahkan dapat merusak ekosistem lingkungan daerah yang diambil sumber dayanya.
3.2. Bus Berbahan Bakar Gas

Salah satu transportasi hijau yang ada di semarang adalah bus Trans Semarang yang berbahan bakar gas. Penggunaan BBG dapat mengurangi biaya transportasi dan lebih efisien, Karena harganya lebih murah dibandingkan dengan BBM yakni hanya Rp3.100 per liter.Biaya operasional bus berbahan bakar gas tersebut lebih murah dengan pemasangan alat konverter gas .
Bila dikalkukasi, satu bus Trans Semarang butuh Rp 412.000 untuk membeli solar per hari. Sedangakan untuk campuran 70 persen gas CGN+30 persen solar hanya butuh Rp 374.100, hemat sekitar 10 persen untuk waktu dan jarak operasional yang sama.
Selain lebih murah biaya operasionalnya, emisi gas buangnyapun lebih rendah, kemudian tenaganya akan lebih kuat.
Selain itu, nilai positif dari penggunaan BBG adalah dapat mengurangi impor BBM, bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, bahan bakar yang relatif aman daripada BBM khususnya ketika terjadi kecelakaan atau kebakaran karena adanya ketersedian safety valve.
Adapun, yang menjadi kendala dalam implementasi konversi BBM ke BBG yakni masih sedikitnya sebaran stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Selain itu, biaya pengadaan kendaraan berbahan bakar gas jauh lebih mahal daripada kendaraan dengan berbahan bakar minyak.
4. Tiga pilar utama Universitas konservas
Tiga pilar utama Universitas konservasi sebagaimana dimaksudkan meliputi: konservasi nilai dan karakter, konservasi seni dan budaya, dan konservasi sumber daya alam [SDA] dan lingkungan.
Pada kegiatan ini lebih difokuskan pada konservasi sda dan lingkungan melalui pengelolaan limbah, khususnya limbah kertas sebagai upaya membentuk kader konservasi yang peduli terhadap lingkungan. Pilar pengelolaan limbah bertujuan melakukan pengurangan, pengelolaan, pengawasan terhadap produksi sampah dan limbah, dan perbaikan kondisi terhadap lingkungan di Unnes untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Pada penglolaan limbah atau manajemen sampah modern yang biasa disebut dengan 3R [Reuse, Reduce, Recycle]

5. Tata Pengelolaan Limbah di Unnes
a. Tata menegemen 3R
1). Reuse (memanfaatkan ulang),yaitu menggunakan kembali barang bekas tanpa pengolahan bahan, untuk tujuan yang sama atau berbeda dari tujuan asalnya.
.
Contohnya, penggunaan bahan-bahan plastik / kertas bekas untuk kerajianan benda-benda souvenir.
2). Recycle(mengolah kembali), yaitu kegiatan yang memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk digunakan lebih lanjut.
Program ini meliputi daur ulang kertas, plastik, logam/kaleng, pengolahan limbah laboratorium, dan pengolahan bunga/daun kering. Sejak tahun 2009 telah dilakukan pemisahan tempat sampah antara sampah organik dan sampah anorganik di setiap gedung Unnes
Program kelanjutan dari pemisahan sampah ini adalah adanya pengelolaan yang berkelanjutan sesuai dengan jenis sampah tersebut, sampah organik dikelola menjadi pupuk kompos, sedangkan untuk sampah anorganik dilakukan pemilahan untuk dilakukan daur ulang atau dikirim ke TPA.
3). Reduce (mengurangi): adalah semua bentuk kegiatan atau perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah.
Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Arsitektur hijau disebut juga arsitektur ekologis atau arsitektur ramah lingkungan, adalah satu pendekatan desain dan pembangunan yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis dan konservasi lingkungan, yang akan menghasilkan satu karya bangunan yang mempunyai kualitas lingkungan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.Transportasi hijau atau bisa juga disebut dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai Green Transport merupakan perangkat transportasi yang berwawasan lingkungan. Keduanya merupakan harapan bagi manusia agar ekosisistem lingkungan kehidupan manusia tetap terjaga.
B. Saran dan Kritik
Tentu dalam penulisan laporan hasil pengamatan ini asih banyak kekurangnnya, mulai dari susuan bahasa yang kurang tepat, isi yang belum sesuai dan masih banyak lagi. Untuk itu penulis berharap bisa mendapat kritik dan saran yang membangun agar penulisan kedpannya bisa lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.m.wikibooks.org/wiki/Manajemen_Lalu_Lintas/Transportasi_hijau
http://konservasi.unnes.ac.id/badan-konservasi-unnes/tujuh-pilar-konservasi/pengolahan-limbah/
http://fe.unnes.ac.id/17/?p=2298
Komentar
Posting Komentar